Strategi Dakwah Dan Penerapannya Di Zaman Ini
Oleh: Ustadz Zulkifli Rahman (Amir Daulah Khilafatul Muslimin)
Alhamdulillaahi Robbil ‘Aalamiin, Wal ‘Aaqibatu Lil Muttaqiin, Wala Udwaana illaa Alaz Zhoolimiin,
Asyhadu an laa ilaaha illa Llaah, Wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaah,
Allaahumma Sholli wa Sallim wa Baarik Alaih………
Allah berfirman:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأمِّيِّينَ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, (Qs. 62 Al-Jumu’ah : 2)
Jika kita cermati ayat ini, insya Allah tergambar pola dakwah yang dilakukan oleh Rasul saw.
- Tilawah, yaitu membacakan ayat ayat Allah pada ummat, baik ayat kauniyah, maupun ayat Qur’aniyah.
- Tazkiyah, mensucikan mereka, yaitu mengajak mereka mensucikan diri dari noda dan dosa dengan mengikrarkan taubat mereka dan memohon ampun kepada Allah, serta mengikrarkan taat kepada Allah, Rasul dan Ulil Amri mereka. Termasuk menyatakan kesiapan diri, berkorban apa saja sesuai dengan kemampuan, demi tegaknya ajaran Allah dan RasulNya.
- Ta’limul kitab wal Hikmah. Mengajarkan ayat Allah yang turun dan menyampaikan hikmah yang disampaikan melalui lisan Rasulullah saw agar mereka dapat mengamalkannya dalam praktek kehidupan nyata.
Inilah strategi dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah. Ummat yang telah ditilawahi, diajak bergabung dalam kepemimpinan Islam, yaitu Muhammad sendiri sebagai sentral figurnya, dimana beliau, selain sebagai pemimpin (Kholifatullah fil ardl), juga sebagai Nabi dan Rasul, sebab Allah hendak menurunkan ayat-ayatNya. Adapun ummat yang diajak bergabung waktu itu, ada dua kategori, ahlul kitab dan musyrikin.
- Musyrikin, penyembah berhala. Mereka tidak menganut agama samawi. Yang kuat memangsa yang lemah, khamar adalah kebanggaan mereka, tidak ada aturan yang baku dalam beragama, mereka biasa menyembah batu, kayu, bahkan makanan yang dibentuk, bahkan apa saja. mereka memakan bangkai dan binatang apa saja, perzinahan dan perbudakan meraja-lela sehingga mereka merasa hina punya anak perempuan. Mereka mendominasi kota Mekkah dan menguasai perdagangannya. Merekalah mad’u pertama Rasulullah. Mereka diingatkan dengan surah Al Fiil, dan diseru dengan surah Quraish. Siapa diantara mereka bersedia menerima Islam, harus melafadzkan dua kalimat syahadat.
- Ahlul kitab, mereka yang beragama Yahudi dan Nasrani, yang dibawa oleh Nabi Musa dan Isa as. Mereka beriman kepada Allah, mengagungkan dan menyembah-Nya meski tak dapat dipungkiri ada beberapa unsur syirik dalam ibadah mereka. Kebanyakan mereka tinggal di luar kota Mekkah, terutama di Yatsrib (sekarang Madinah). Allah menyeru mereka dalam ayat al Qur’an yang berbunyi;
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Katakanlah: “Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (Qs. 3 Ali Imran : 64)
Intinya adalah Kalimatun Sawa’ yaitu kalimat yang tidak ada perselisihan diantara kaum Muslimin, Yahudi maupun Nasrani, meski diketahui bahwa tidak mungkin tidak ada perselisihan, Kalimatun Sawa’ artinya upaya menumpulkan perselisihan, bukan malah mempertajam. Mereka menerima Islam dari cerita para pedagang yang kembali dari Makkah hingga Rasulullah mengutus Mush’ab bin Umair, duta pertama Rasulullah yang diutus ke Yatsrib.
Kepada mereka Allah dan RasulNya meminta Bai’at, yaitu janji setia untuk membela dan memperjuangkan Islam. Mereka yang berbai’at, berarti mengakui kepemimpinan Muhammad, yang mana pada dasarnya mereka sudah Islam, Islam Yahudi dan Islam Nasrani, Islam adalah nama yang diajarkan oleh kakek mereka Ibrahim as. (Qs. 22 Al Hajj: 78)
Jika kita cermati kedua bentuk model mad’u Rasulullah ini, kita dapat gambaran bahwa yang punya kemiripan dengan mad’u kita sekarang ini adalah penduduk Yatsrib, yang terdiri dari ahlul kitab Yahudi maupun Nasrani. Mereka orang Islam yang ditawarkan Islam Kaafah kepada mereka, tidak hanya ditawarkan syahadatain, tapi ditawarkan pula bai’at, ikrar janji setia untuk membela dan memperjuangkan Islam didalam kerangka systemmya sendiri, bukan dalam kerangka system lain. Kalimat kita sama, seruan kita sama dan cita-cita kita sama!.
Agaknya kita perlu mempelajari lebih dalam bagaimana pola dakwah yang diterapkan oleh Mush’ab bin Umair di Yatsrib pada periode Mekkah yaitu ketika Rasulullah masih di Mekkah sementara Mush’ab sudah memulai dakwah di Yatsrib. Ketika kita berbicara periode Mekkah perhatian kita tertumpu pada pola dakwah Rasulullah menghadapi kafir Quraisy dan kita terlupakan bahwa pada periode yang sama Mush’ab juga sedang melaksanakan tugasnya sendiri untuk berdakwah di tempat lain dengan obyek dakwah yang berbeda dan dengan pola dakwah yang berbeda pula.
Pada masa yang sama Rasulullah saw di Mekkah menghadapi kafir Quraisy dengan sangat tegas, dengan garis furqon yang jelas dengan prinsip dasar yang tidak bisa ditawar-tawar. Yang dihadapi adalah jelas-jelas orang kafir musyrik penyembah berhala, tidak mengenal Allah, tidak mengenal alkitab, apalagi punya pengetahuan tentang kenabian. Rasulullah sedikitpun tidak bertoleransi dengan mereka, bahkan tidak hendak duduk bersama dalam majelis mereka (Daarun Nadwah).
Sementara di sisi lain, dalam waktu yang sama Mush’ab bin Umair mendatangi pembesar-pembesar ahlul kitab, Yahudi maupun Nasrani termasuk juga orang–orang awwam mereka sambil berkata: “Mari duduk bersama kami, dengarkan apa yang saya sampaikan, jika menurutmu baik maka kau bisa menerima dan mengikutinya, jika menurutmu tidak baik maka kau bisa menolak serta meninggalkannya.” Merekapun menjawab singkat: “Anshofta” yakni, kamu telah menunjukkan jalan tengah yang baik.
Karena mad’unya berbeda maka berbeda pula cara dan hasilnya. Di Mekkah, walaupun Rasul sendiri yang menyampaikan dakwah, langsung dibimbing oleh wahyu, hanya sedikit orang-orang kafir Quraisy yang bersedia menerima dakwah beliau, sehingga Islam tidak mungkin diterapkan pada kelompok minoritas yang tertindas. Sementara di Yatsrib, walaupun yang berdakwah hanya seorang Mush’ab bin Umair yang bukan nabi dan tidak langsung dibimbing wahyu, tetapi masyarakatnya menerima Islam yang ditawarkan, karena apa yang disampaikan memang sudah mereka kenal sebelumnya dari kitab-kitab yang ada pada mereka (Taurat dan Injil). Merekapun menerima dengan haru serta merasa bahwa inilah yang mereka tunggu-tunggu. Allah menggambarkan kondisi mereka dalam firmanNya;
#وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَى أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ
وَمَا لَنَا لا نُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا جَاءَنَا مِنَ الْحَقِّ وَنَطْمَعُ أَنْ يُدْخِلَنَا رَبُّنَا مَعَ الْقَوْمِ الصَّالِحِينَ
فَأَثَابَهُمُ اللَّهُ بِمَا قَالُوا جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ
83. dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu Lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari Kitab-Kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan Kami, Kami telah beriman, Maka catatlah Kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.).
84. mengapa Kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada Kami, Padahal Kami sangat ingin agar Tuhan Kami memasukkan Kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh ?”.
85. Maka Allah memberi mereka pahala terhadap Perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. dan Itulah Balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya).
(Qs. 5 Al Maidah:83-85)
Hal penting yang harus diperhatikan oleh setiap da’i dalam berdakwah adalah bagaimana cara dia menyampaikan dakwah, apakah sesuai dengan tuntunan atau sekedar sesuai dengan akal sehat-nya saja? Perhatian seorang da’i hendaklah dititikberatkan pada langkah yang dia lalui dan cara dia melangkah, bukan pada hasil yang akan dia dapatkan. Dan hendaklah juga dalam memberi penilaian terhadap suatu aktifitas dakwah bukan pada hasil pencapaiannya. Sepintas jika kita bandingkan antara dakwah Rasulullah dengan dakwah Mush’ab bin Umair, secara duniawi, Allah memberi keberhasilan pada Mush’ab bin Umair di Yatsrib sementara Rasulullah sendiri, secara duniawi, dapat dikatakan “belum berhasil” di Mekkah. Artinya dakwah Mushab disambut baik dan diterima oleh mayoritas ummat di Yatsrib, sementara dakwah Rasulullah ditolak oleh mayoritas ummat di Mekkah bahkan beliau hendak dibunuh, hingga terusir dari kota Mekkah. Bukan berarti Rasulullah kurang bijaksana dalam berdakwah, bukan pula berarti bahwa Mush’ab lebih hebat dari Rasulullah, tetapi memang mad’unya berbeda, dan pola dakwah terhadap mad’u yang berbeda itu hendaknya berbeda pula.
System kekhalifahan yang kita dakwahkan sekarang ini tentunya mencontoh kepada system nubuwwah sesuai dengan mad’u yang kita hadapi, mulai dari personal/pribadi yang kita kenal dan mengenal kita, kita ajak bergabung satu demi satu, hingga seruan itu disampaikan secara umum dan terbuka di depan orang banyak. Kita mulai dari dakwah sirriyah, kemudian dakwah jahriyah, dalam bentuk sosialisasi dan penyampaian di depan publik. Ketika kita melihat bahwa mad’u kita lebih mirip dengan mad’u Mus’ab bin Umair, maka pola dakwah Mus’ab lebih tepat untuk kita terapkan. Ketika mad’u kita identik dengan mad’u Rasulullah di Makkah, maka tentu kita akan mengenal mana sosok yang pantas kita identifikasikan sebagai Abu Jahal, Abu Lahab dan pemerintahan Daarun Nadwah yang didominasi oleh kafir Quraysy, penyembah berhala, pemakan bangkai dan seterusnya.
Semoga uraian singkat ini dapat memberi gambaran kepada kita tentang strategi dakwah dalam menghadapi ummat yang berada dalam perpecah-belahan untuk menyelamatkan mereka menjadi satu jama’ah dalam ridho Allah SWT, yaitu menyelamatkan mereka dari tepi jurang api neraka dengan jama’ah, imamah dan bai’at. Aamiin..














