Menyelamatkan Ummat dengan Islam
Oleh: Amir Daulah Khilafatul Muslimin (Ust. Zulkifli Rahman)
BELAKANGAN INI Islam kerap diidentikkan dengan perang, kekerasan, anarkis dan lain-lain yang menjurus pada stigma bahwa Islam adalah terorisme. Di sisi lain berbagai kalangan ummat Islam berusaha menepis hujatan itu dengan berbagai argumen, namun isu terorisme tetap saja disandarkan pada Islam dan kaum muslimin.
Sepanjang sejarah, diketahui bahwa Islam sebenarnya senantiasa menebar rahmat kasih sayang dimana-mana. Belum pernah ada sejarah yang mencatat ummat Islam yang mayoritas menindas minoritas ummat lain meski dimana mana minoritas muslim selalu tertindas.
Kaum muslimin di Mekkah menjadi kaum yang tertindas, meski dipimpin langsung oleh seorang nabi dan Rasul, penindasan terhadap mereka tak dapat dielakkan. Terpaksa mereka mencari tempat yang aman untuk menyelamatkan dien. Hingga akhirnya mereka hijrah ke Yatsrib.
Di Yatsrib, kepemimpinan masyarakat sudah mulai melemah. Perseteruan antara Suku besar Aus dan Khazraj nyaris tak mungkin dapat didamaikan lagi. Dendam kesumat dari keduanya membuat pertikaian mudah sekali tersulut, hanya karena persoalan seekor anak onta.
Islam datang membawa misi damai diantara mereka. Terbukti bahwa mereka dapat dipersaudarakan dalam Islam. Ketika kepemimpinan Abdullah bin Ubayy bin Salul semakin melemah, mosi tidak percaya terjadi dimana-mana. Abdullah bin Ubayy pun semakin dikenal sebagai orang yang bermuka dua. Masyarakat Yatsrib benar benar diambang kehancuran. Tidak ada lagi orang yang dapat mereka percaya untuk memimpin mereka. Sementara Yahudi Bani Qoinuqo’ dan Yahudi Bani Nadzir tengah menanti durian runtuh.
Ketika itulah Islam datang menawarkan sistem kepemimpinan yang handal, bahkan miniatur kepemimpinannya sudah mereka praktekkan dalam kehidupan sehari-hari dengan penuh keterbukaan, keteladanan yang baik dan penuh kasih sayang. Sudah mulai banyak penduduk Yatsrib yang bergabung dalam kepemimpinan Mush’ab bin Umair. Satu demi satu mereka menerima Islam, langsung mempraktekkannya. Mereka bersedia berbai’at untuk membela dan memperjuangkan Islam. Terjadilah bai’at Aqabah I dan II. Dengan segenap kepiawaiannya, Mush’ab mengkoordinir mereka untuk melaksanakan ajaran Islam, yang akhirnya dipimpin langsung oleh Rasulullah setelah beliau hijrah. Mereka mulai merasakan indahnya Islam, maka merekapun menerima Islam dengan berbondong-bondong. Selamatlah Yatsrib dari ancaman kehancuran.
Sementara Yahudi dan Nasrani tidak tinggal diam. Mereka berusaha terus mengadu domba Aus dan Khazraj, agar mereka tetap dapat mengambil keuntungan dari perseteruan mereka. Namun upaya itu sulit mereka lakukan, karena Islam sudah mempersaudarakan mereka. Meski demikian mereka terus saja berusaha memadamkan cahaya Islam dari mereka, tapi cahaya itu semakin sempurna sedang mereka semakin hancur.
Bagaimana dengan bangsa Indonesia ini? Semoga ummat Islam sudah mempersiapkan solusi bagi bangsa Indonesia, bahkan bagi Ummat sedunia yang berada diambang kehancuran. Aamiin.














