Menegakkan Kembali Kekhalifahan
Oleh: Ust. Zulkifli Rahman (Amir Daulah Khilafatul Muslimin)
Sudah menjadi sebuah paradigma dalam masyarakat bahwa untuk menegakkan khilafah, kita mesti mengetahui lebih dahulu faktor apa saja yang menjadi sebab keruntuhan khilafah pada masa lalu. Paradigma ini membuat tidak sedikit dikalangan ummat Islam menjadi pesimis. Begitu kita mencoba mengkaji sebab-sebab runtuhnya kehalifahan yang pernah tegak dengan gagahnya itu, kita dihadapkan pada kenyataan, betapa hebatnya musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi dan Nasrani yang dengan segenap tipu daya mereka berhasil menumbangkan khilafah yang hebat itu. Bahkan dengan menggunakan tangan orang yang masih berinisial Islam seperti Musthofa Kemal At Taturk. Bertambah pesimis lagi jika kita melihat potensi yang ada pada kaum muslimin sekarang ini, baik dari sisi kemampuan tehnologi, persenjataan, maupun sumber daya ummat yang ada yang nampaknya semakin lemah akibat perpecahan yang berkepanjangan.
Sebenarnya sederhana saja, kita bukan ingin meruntuhkan khilafah, yang ingin kita kerjakan adalah membangun kembali khilafah. Maka yang perlu kita pelajari adalah bagaimana awal mula khilafah itu di tegakkan.
Jika khilafah itu diibaratkan sebuah pohon yang tinggi, besar, kuat dan kokoh, dengan daun yang lebat dan buah yang melimpah, kemudian pohon khilafah itu tumbang. Maka jika kita ingin menegakkan pohon itu kembali, yang perlu kita pelajari, bukan fokus pada faktor apa saja yang membuat pohon itu tumbang, tapi yang perlu kita pelajari habis-habisan adalah bagaimana asal mula pohon itu tumbuh. Di bumi seperti apa dia disemai, bagaimana dia dijaga dan dirawat hingga dia tumbuh subur, bagaimana supaya batangnya kokoh kuat hingga dapat dipakai bersandar, bagaimana supaya daunnya lebat hingga dapat dipakai berteduh, bagaimana supaya dia berbuah lebat sehingga dapat dinikmati, dan seterusnya hingga ia menjadi kebanggaan ummat.
Dalam sebuah ceramahnya, yang kemudian dibukukan dalam serial Tarbiyah Jihadiyah, Syaikh Abdullah Azzam menerangkan bahwa khilafah akan dimulai dari sebuah jamaah yang kecil, lalu jamaah itu akan melalui beberapa tahapan yang mesti mereka lalui, kemudian bertambah besar sedikit demi sedikit hingga tegaklah khilafah. Beliau juga menyebutkan bahwa negeri yang paling mirip dengan Yatsrib, adalah Indonesia. Dahulu Islam masuk ke Indonesia, tidak seperti masuknya Islam ke Afghanistan. “Islam masuk kemari (Afghan) dengan perang, sementara Indonesia, belum pernah kedatangan pasukan Islam. Para penduduknya masuk Islam dari hasil interaksi mereka dengan para pedagang muslim yang datang ke sana. Mereka menaruh rasa simpati dengan akhlaq para pedagang muslim yang datang tadi, dan selanjutnya mereka memeluk Islam dengan kerelaan hati mereka, tanpa ada paksaan. Jadilah negeri mereka menjadi negeri Islam”. Demikian pula Islam masuk ke Yatsrib, tanpa perang, tanpa pertumpahan darah…!
Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah SAW bersabda: la yaquumu amru haadzad diini illa kamaa yaquumu bihi awwaluhu. Tidaklah tegak urusan agama ini kecuali sebagaimana dia tegak pada awwalnya.
Sekarang di Indonesia sudah ada jamaah yang mensponsori tegaknya khilafah, tinggal menunggu respon ummat Islam yang insya Allah akan bahu-membahu hingga pohon khilafah akan benar-benar tegak dengan batang yang kokoh, daun yang rindang dan buah yang lebat. Akarnya menghunjam ke bumi dan pucuknya menjulang ke langit.
Semoga kita segera menjadi bagian yang ikut merawatnya, dengan berharap rahmat dan ridho Allah. Semoga Allah memandaikan kita dalam melaksanakan tugas suci untuk meninggikan kalimat Allah, mengampuni dosa-dosa kita dimasa lampau, serta meridhoi kita. Aamiin.














