Published On: Wed, Aug 17th, 2011

Khilafah dan Harapan Ummat, Antara Idealita dan Realita

Khilafah dan Harapan Ummat, Antara Idealita dan Realita“Apa yang dilakukan oleh Khilafatul Muslimin terhadap nasib Kaum Muslimin di Palestina yang dijajah Israel?”, “Apa upaya Khilafatul Muslimin dalam mengentaskan kemiskinan ummat?”, “Apa usaha dari Khilafatul Muslimin dalam rangka menangkal serangan musuh-musuh Allah terhadap ummat Islam?”, berbagai pertanyaan tersebut diatas dan masih banyak pertanyaan serupa lainnya begitu akrab di telinga warga Khilafatul Muslimin, terutama para da’i yang banyak waktunya digunakan untuk mendakwahkan pelaksanaan sistim Khilafah.

Berbagai pertanyaan tersebut tentu saja menunjukan pemahaman ummat akan pentingnya mewujudkan sistim Khilafah, sekaligus juga mewakili banyak harapan dari mereka terhadap sebuah institusi jama’ah yang bernama Khilafah, sebagai tempat bernaung, menuntut rasa aman dari bahaya, menuntut kesejahteraan dari kemelaratan, menuntut pembebasan dari penjajahan atas sebuah negeri dan masih banyak harapan lainnya.
Karena sejatinya, sistim Khilafah dan Khalifahnya memang berfungsi memenuhi seluruh harapan tersebut, bahkan mencakup seluruh bidang kehidupan manusia yang memungkinkan. Maka, semua pertanyaan dan tuntutan ummat hari ini bisa dikatakan sangatlah tepat dan ideal, sebagaimana hadits Rasulullah salallaahu alaihi wasallam:

“Seorang Imam ( Khalifah ) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat, dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya.” ( HR. Bukhari ).

Yang kemudian menjadi masalah adalah ketika Khilafah kini belum mencapai kondisi ideal untuk dituntut terlalu banyak dan terlalu tinggi sebagaimana yang mereka sampaikan, karena dukungan ummat, termasuk mereka yang banyak menuntut belum lagi nyata terhadap sistim ini, apalagi bisa diharap menjadi mujahid yang siap berkorban harta dan jiwanya. Banyaknya masih sebatas mereka yang hanya berharap, sementara tenaga dan pikirannya tidak pernah menjadi bagian dari perjuangan ini atau malah dicurahkan untuk suatu perjuangan yang bersifat parsial, bahkan mereka masih andil pada suatu sistim yang menentang hukum Allah, sehingga tuntutan yang ideal tersebut menjadi ‘tidak realistis’ adanya.
Bila kita tengok kembali kepada sejarah generasi awwal ummat ini, yaitu para sahabat Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam dalam menyambut isyarat wahyu, mereka tunduk patuh sepenuhnya dengan satu prinsip yang cukup agung dengan mengatakan: “Kami dengar dan Kami taat.” (Qs Al Baqarah: 285), sehingga hampir tidak ada waktu terlewatkan bagi para sahabat kecuali dalam keadaan berjuang memperpendek jarak antara kondisi realitas mereka dengan keinginan syari’at yang mereka pahami. Sehingga pantaslah jika mereka mendapatkan anugerah hidup dalam kemuliaan, mendapatkan ridho Allah dunia hingga akhirat. Allah subhaanahu wa ta’ala menggambarkan:

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS At Taubah: 100).

Bersesuaian dengan ayat tersebut Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam memberi rekomendasi lewat sabda beliau:
“Sebaik-baiknya manusia adalah pada generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka”. (HR. Mutafaq ‘alaih).
Sami’na wa atho’na, sebagai semangat unggulan para sahabat menjadi salah satu asbab utama kemenangan perang Badar Kubra sebagai perang yang fenomenal dan awal dalam Islam. Dikala pengkhianatan kaum munafik mulai nampak merusak formasi pasukan Badar, seorang sahabat besar Al Miqdad bin Amr berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, majulah terus seperti yang diperlihatkan Allah kepada engkau. Kami akan bersama engkau. Demi Allah, kami tidak akan berkata kepada engkau sebagaimana Bani Israel yang berkata kepada Musa, ‘Pergi engkau sendiri bersama Robb-mu lalu berperanglah kalian berdua. Sesungguhnya kami ingin duduk menanti di sini saja’. Tetapi ( kami akan berkata ) pergilah engkau bersama Robb-mu lalu berperanglah kalian berdua, dan sesungguhnya kami akan ikut berperang bersama kalian berdua. Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, andaikata engkau pergi membawa kami ke dasar sumur yang gelap, maka kami pun siap bertempur bersama engkau hingga engkau berhasil mencapai tempat itu.” Pernyataan Al Miqdad bin Amr ini disambut dengan suka cita dan do’a kebaikan oleh Rasulullah, pernyataan yang dibuktikan dengan nyata oleh para sahabat sehingga Rasulullah kemudian berhasil membawa pulang kemenangan gemilang dari lembah Badar.
Para sahabat radhiyallaahu anhum ajma’in dimasa lalu memang menyimpan harapan besar bagi kemenangan Islam dan kaum Muslimin dihati mereka, sebelum mereka meraihnya, sebagaimana harapan yang bersemayam di hati kaum Muslimin hari ini. Namun mereka ( para sahabat ) membangun harapan tersebut diatas komitmen dalam shaff jama’ah dengan cara beriman, berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka sebagai pembuktian iman yang benar. Sehingga hampir tidak ada jarak sedikitpun antara kondisi realitas mereka dengan apa yang menjadi tuntutan syari’at, dengan kata lain; mereka adalah manusia-manusia yang hidup dengan idealisme tinggi namun selalu realistis dalam bersikap dan bertindak. Kehidupan mereka seperti digambarkan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:

الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. At Taubah : 20 ).

Walaahu a’lam bi ash showaab!

Oleh: Ahmad MS

About the Author

Displaying 10 Comments
Have Your Say
  1. Ahmad MS says:

    Menurut data Harun Yahya bahwa 20% masyarakat dunia menguasai 80% kekayaan dunia, sebaliknya 80% masyarakat dunia memperebutkan 20% kekayaan dunia. Jagi telah terjadi kesenjangan yang begitu besar. Para sahabat yang kaya semisal 9 dari 10 orang yang dijamin masuk surga, hanyalah beberapa persen dari keseluruhan sahabat Nabi, namun keberadaan mereka justeru bisa menjadi penjaga kestabilan ekonomi ummat. Kesenjangan tersebut diatas tentu sebagian besar karena tidak tegaknya tatanan kehidupan yang benar menurut Islam, Khilafah Islamiyyah. Sekarang banyak diantara kita teriak-teriak jihad Qital sementara mereka masih menahan hartanya dengan tidak berinfaq, bagaimana mau menyerahkan nyawa yang cuma satu, sementara harta yang masih bisa dicari lagi tidak siap ia korbankan?

  2. afwan, kalau memang khilafah kenapa menyatakan diri sbg ORMAS? kenapa harus ada simbol? kenapa ada kostum? apa ini yang disebut khilafah ‘ala minhajin nubuwwah? apa ini yang dicontohkan oleh Nabi dan para khulafaurasyidin al-mahdiy?

  3. syahidalghazi says:

    Khilafatul Muslimin bukan ORMAS, tapi Organisasi Islam dalam bentuk jamaah sesuai maklumat yang telah diterbitkan. Adapun simbol dan kostum, itu hanya masalah tehnis administratif saja. tidak ada larangan dalam dien kita.

    Yang dicontohkan Nabi dan Khulafaur Rasyidin, adalah bersatu dibawah satu kepemimpinan Islam, itu yang sedang kami tempuh, kami berharap akhi Julfikar segera bergabung agar dapat lebih banyak lagi memberi masukan yang bermanfaat. Jazakumullah..

  4. Ahmad MS says:

    Bismillaah, To: Jawir Julfikar:

    1. Kalau secara spesifik sebagai OrMas sih ndak ada, hanya sebagai organisasi secara umum, kata organisasi digunakan hanya sebagai bahasa kaum, agar ummat mudah memahami, bahwa kalau kita punya keinginan ber-organisasi maka organisasi satu-satunya yang legal dalam Islam adalah Khilafah Islamiyyah. Organisasi secara harfiah itu kan kumpulan orang dengan kesamaan visi dan misi yang hendak diwujudkan bersama, bahkan dewasa ini dikenal bahwa Negara adalah organisasi terbesar,

    2. Simbol: Sesuatu yang lumrah sebagai identitas structural yang digunakan agar orang lain bisa membedakan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, Rasulullaah SAW juga memiliki bendera-bendera, hanya saja bukan untuk dihormat dengan upacara tertentu, tapi hanya identitas,

    3. Terkait dengan seragam itu bagian dari kebutuhan sebagaimana symbol, bukan harus secara mutlaq, tapi kalau Khalifah sudah wajibkab maka berubah wajib, karena wajibnya taat sama Ulil amri (QS. An Nisaa’:59). Dalam sejarah Kekhalifahan Islam, mulai Khalifah ke-2, Umar bin Khathab sudah mulai menerapkan sistem militer konvensional dengan seragam-seragam mereka, bahkan setiap angkatan dan tugas-tugas tertentu punya seragam yang khas. Dalam sebuah kisah, saat pembagian kain dari Baitul Maal untuk para staff Kekhalifahan, ukuran semuanya sama besar untuk setiap orang termasuk Khalifah Umar sendiri, tapi dengan ukuran tersebut harusnya tubuh Umar sendiri tidak muat, tapi kenyataannya Umar bin Khathab bisa menggunakannya dengan ukuran yang cukup untuk badannya yang tambun. Salman Al Faris protes dengan itu, Salman mempertanyakan darimana Umar mendapatkan kain tambahan, jangan-jangan hasil korupsi? Ternyata Umar mendapatkannya dari bagian putra beliau, Abdullah bin Umar. Itu salah satu bukti tambahan, sudah adanya seragam sejak jaman Umar bin Khathab, belum lagi kita bicara Salahuddin Al Ayyubi dan lain-lain. Wallaahu a’lam!

  5. MHS says:

    Penggunaan seragam bagi petugas kekhalifaan di masa-masa itu adalah niscaya dalam rangka menerapkan tata aturan di negeri atau wilayah yang sepenuhnya berada dalam kontrol dan kekuasaan Islam. Justru penggunaan atribut-atribut tertentu di luar mekanisme kekuasaan dalam rangka mengatur urusan umat, itu adalah prilaku dan kebiasaan kaum jahiliyah dan para penyembah berhala dari dahulu hingga sekarang, yang gandrung dengan simbol-simbol kebesaran untuk meninggikan kemuliaan diri dan kelompoknya. Hemat kami, alangkah baiknya apabila Khilafatul Muslimin yang belum sampai pada posisi sebagai institusi kekuasan pengatur urusan umat, dapat tampil lebih bersahabat dan simpatik di hadapan umat, dengan lebih mengedepankan kerja konkrit dalam rangka menyiapkan kekuatan sosial, kekuatan ekonomi dan kekuatan lainnya yang diperlukan bagi upaya nyata mewujudkan cita-cita menengakkan kembali kejayaan Islam dan menegakkan kembali Khilafah Islamiyah. Janganlah kiranya simbol-simbol itu malah menjadi salah satu penghalang upaya mempersatukan umat. Karena secara langsung ataupun tidak langsung, sesungguhnya simbol-simbol itu justru telah menjelma menjadi alat dan sarana pemecah belah umat. Dan seperinya pada kondisi hari ini, sepertinya Khilafatul Muslimin telah diposisikan menjadi salah satu firqoh yang turut meramaikan jagad firqoh di negeri surganya para koruptor ini. Sementara itu, di hadapan kita tugas-tugas berat untuk memerangi kemunkaran, kemiskinan dan kebodohan, sesungguhnya lebih membutuhkan energi dan perhatian kita. Ketimbang melulu disibukkan untuk mengurusi soal atribut, laporan bulanan dan lain-lain teknis kegiatan organisasi, yang kecenderungannya cukup menyita dan menguras energi, namun kurang memberi nilai tambah yang nyata dalam rangka mengakselerasi proses memperjuangkan visi dan misi organisasi yang sebenarnya. Bukan semata membangun kekuatan semu, yang menipu dan membodohi umat sedunia. Wallaahu a’alam.

  6. Ahmad MS says:

    MHS: TERIMA KASIH ATAS MASUKANNYA: Penggunaan seragam itu lumrah bagi organisasi manapun dan dalam dunia modern sekarang ini Negara dikenal sebagai organisasi terbesar. Kalau bicara seragam tanpa mekanisme kekuasaan tidak usah jauh-jauh mengambil contoh ke masa lalu, apalagi “menganggap sama“ Khilafatul Muslimin dengan kelompok sesat seperti itu. Banyak organisasi baik ormas atau organisasi politik (partai), dan berbagai kelompok lain yang diluar mekanisme kekuasaan juga menggunakan seragam sebagai identitas mereka.
    Alhamdulillaah, dimana-mana Khilafatul Muslimin tampil SIMPATIK DAN BERSAHABAT, baik dengan masyarakat umum maupun tokoh-tokoh pemerintahan, karena mereka juga Muslim yang perlu tahu tentang misi ini sebagaimana masyarakat umumnya. Makanya di jama’ah ini sudah mulai ada perwira Polisi secara pribadi, Ketua MUI, anggota MUI pusat dan lain-lain, itu semua sebagai bukti bahwa seragam dan penampilan warga Khilafah tidak jadi penghalang bagi mereka untuk mengetahui kebenaran.
    Disamping itu karena memang Khilafatul Muslimin mempunyai program-program yang konkrit dalam pemberdayaan ekonomi dan pelayanan social seperti yang anda harapkan, seperti membangun dunia usaha dan menampung tenaga kerja lewat Bagian IQTISHODIYYAH WAT TADBIIRIL KASBI (Ekonomi dan ketenaga kerjaan), mulai ada pelatihan-pelatihan skill’s dan pemberdayaan para remaja putus sekolah untuk belajar di lembaga-lembaga pendidikan gratis yang dibangun jama’ah lewat Bagian TARBIYYAH WAT TA’LIM-nya.
    Kalau kemudian masalahnya ada yang memposisikan Khilafatul Muslimin seperti firqoh pada umumnya, itu hanya masalah sudut pandang saja, kami dan anda sekalipun tidak bisa menyeragamkan pandangan orang lain pada diri kami dan diri anda.
    Kalau anda memberi pandangan terhadap masalah; laporan bulanan dan lain-lain, bagi kami dan umumnya pelaku organisasi itu sangat penting untuk mengetahui perkembangan dan mengendalikan perjalanan jama’ah secara organisasi. Karena Rasulullaah SAW juga terbiasa bermusyawarah dan mendengar suara dari ummatnya. Wallaahu a’lam…!

  7. hasni says:

    Seandainya seluruh ummat muslim/at sadar dan mau mengkritik apa yang di upayakan ihwan-ihwan di KEKHALIFAHAN ISLAM Khilafatul Muslimin sebaiknya menggunakan landasan dalil Qur’an dan Sunnah agar dapat diluruskan oleh Ihwan- ihwan di khilafatul muslimin, yang mana yang benar dan yang mana yang salah. Kalau asumsi atau teori-teori pemikiran pribadi saja dan bukan dalil Qur’an dan sunnah, kelihatannya yang ada hanya kebencian,kesombongan dan kebanggaan golongan bahwa merekalah yang paling benar. Marilah kita bangun UKHUWAH ISLAMIAH dan mengerti dulu setiap permasalahan (tabayyun) agar kita semua ummat muslim/at terhindar dari FITNAH. Jika KEBENARAN yang di upayakan ihwan-ihwan di KEKHALIFAHAN ISLAM-Khilafatul Muslimin, tidak menyalahi Qur’an dan Sunnah sedikitpun, TIDAK ADA SALAHNYA dan MENJADI WAJIB kita MENDUKUNG dan IKUT menperjuangkan agar kita mendapat ridha ALLAH S.W.A yang sangat besar dan balasan apa yang telah kita usahakan. Amien…

  8. Apa bedanya dg HTI? Knapa ga Joint Aja?

  9. syahidalghazi says:

    Alhamdulillah,
    Akhi Ahsan, HTI masih wacana, belum ada Khalifah nya. Sementara Khilafatul Muslimin, sudah berjalan dan sudah ada Khalifahnya, walaupun masih jauh dari sempurna. Insya Alloh disini kita bekerja menyempurnakannya..

  10. hartoger says:

    saudaraku seiman semuanya marilah kita dukung khilafatulmuslimin ini agar kita umat islam mempunyai izah dan potensi yang besar.untuk mensejahterakan umat manusia.Insya Alloh

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>